Ejaan & Tata Tulis 28 Feb 2026

Ejaan dan Tata Tulis Bahasa Indonesia

Menulis dengan benar bukan soal kaku, tetapi soal kejelasan.

Dalam konteks akademik, profesional, dan publikasi digital, ketepatan ejaan membuat tulisan lebih kredibel dan mudah dipahami. Kesalahan kecil seperti salah menulis di atau keliru memakai huruf kapital bisa mengubah makna kalimat.

1. Perbedaan EYD dan PUEBI yang Wajib Diketahui

EYD (Ejaan yang Disempurnakan) adalah pedoman lama yang kemudian diperbarui menjadi PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Secara fungsi, keduanya sama-sama mengatur kaidah ejaan, tetapi PUEBI lebih mutakhir dan menyesuaikan kebutuhan bahasa masa kini.

  • • EYD lebih dikenal dalam penggunaan lama dan materi sekolah terdahulu.
  • • PUEBI menjadi acuan resmi terkini dalam penulisan formal.
  • • Beberapa ketentuan diperjelas, terutama pada unsur serapan, tanda baca, dan kapitalisasi.

2. Aturan Huruf Kapital dalam Bahasa Indonesia

Huruf kapital digunakan pada awal kalimat, nama diri, nama lembaga, nama tempat, hari besar, serta unsur tertentu dalam gelar dan jabatan yang diikuti nama.

Benar: Saya tinggal di Kota Bandung.

Benar: Surat ini ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo.

Salah: Saya menghadiri rapat bersama kepala sekolah Andi. (seharusnya: Kepala Sekolah Andi, jika jabatan diikuti nama)

3. Cara Penulisan Kata Serapan yang Benar

Kata serapan adalah kata dari bahasa lain yang sudah disesuaikan dengan ejaan Bahasa Indonesia. Penyesuaian ini penting agar konsisten dan sesuai kaidah.

  • Activityaktivitas
  • Qualitykualitas
  • Systemsistem
  • Analysisanalisis

Jika istilah belum lazim diserap, Anda dapat menulis bentuk asingnya secara konsisten sesuai konteks bidang ilmu atau industri.

4. Tanda Baca dalam Bahasa Indonesia dan Contohnya

Tanda baca membantu pembaca menangkap struktur dan makna kalimat. Berikut penggunaan dasar yang paling sering keliru:

  • Titik (.) untuk mengakhiri kalimat pernyataan. Contoh: Rapat dimulai pukul 09.00.
  • Koma (,) untuk jeda, perincian, atau anak kalimat. Contoh: Jika hujan turun, acara dipindahkan ke aula.
  • Titik dua (:) untuk memerinci. Contoh: Bahan yang diperlukan: kertas, pena, dan map.
  • Tanda hubung (-) untuk kata ulang atau gabungan tertentu. Contoh: anak-anak, non-formal (sesuai konteks kebakuan).
  • Tanda petik (“ ”) untuk kutipan langsung. Contoh: Ia berkata, “Saya siap memulai.”

5. Penulisan Kata Depan “di” dan “ke” yang Sering Salah

Kekeliruan paling umum terjadi saat membedakan kata depan dan imbuhan. Prinsipnya sederhana:

  • Kata depan di / ke ditulis terpisah: di rumah, ke kantor.
  • Imbuhan di- / ke- ditulis serangkai: ditulis, kedua.

Contoh sering salah: dirumah (salah) → di rumah (benar).

6. Tambahan Penting: Partikel, Singkatan, dan Istilah Asing

Agar tulisan lebih rapi, ada beberapa kaidah tambahan yang sering terlewat:

  • • Partikel pun umumnya ditulis terpisah: apa pun, siapa pun (kecuali bentuk padu tertentu seperti adapun).
  • • Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai: bacalah, apakah.
  • • Singkatan gelar dan sapaan harus konsisten: S.H., Dr., dll..
  • • Istilah asing yang belum diserap dapat dimiringkan agar jelas pembedaan bentuknya.